KEGIATAN EDUKASI



 
Pada kesempatan ini RSIA Bunda Aliyah mengunjungi PAUD Pelangi bangsa yang berlokasi di Taman Buaran Indah IV Jakarta Timur
Hadir sebagai pembicara, dr. Adisty Putri yang memberikan materi seputar tumbuh kembang anak. RSIA Bunda aliyah sangat fokus dalam memberikan edukasi kesehatan
kepada masyarakat, terutama kesehatan untuk ibu dan anak karena masa depan bangsa ini ada di tangan mereka. RSIA Bunda Aliyah juga siap untuk memberikan informasi
dan edukasi seputar masalah kesehatan bagi sekolah, perusahaan ataupun perkumpulan lain yang membutuhkan
Skoliosis masih belum akrab di telinga masyarakat Indonesia. Tetapi bukan berarti kelainan tulang belakang (skoliosis) itu tak ada di Tanah Air. Pasalnya, pakar kesehatan mengatakan sebanyak 2% dari suatu populasi penduduk mengalami skoliosis. Sebanyak 10% dari kelompok penyandang skoliosis itu tergolong berat. 
Apa sebenarnya skoliosis? "Skoliosis sebenarnya berasal dari kata 'skolios' yang berarti bengkok," kata DR. dr Luthfi Gatam SpOT-FICS, (K-Spine) dari Ramsay Spine Center RS. Premier Bintaro (sebelumnya RS. Internasional Bintaro). Jadi skoliosis diartikan pembengkokan pada tulang belakang.

Pembengkokan tulang belakang itu selalu bergerak ke arah samping. Namun jika dilihat dari belakang, pembengkokan ke arah kanan atau kiri. "Tetapi umumnya bengkoknya ke arah kiri. Oleh karena itu, secara harfiah skoliosis itu pembengkokan tulang ke arah samping" ujar Luthfi.     

Dokter spesialis orthopedi yang praktik di RS Premier Bintaro ini menjelaskan jenis skoliosis sangat banyak. Namun dari banyak jenis itu, terdapat skoliosis yang disebut idiophatic scoliosis atau skoliosis idiofatik.  

Kenapa disebut idiofatik ?
Luthfi mengatakan idiofatik berasal dari dua kata 'idiot' yang berarti tidak tahu. Kata fatik dari fatologi yang berarti kelainan. Jadi skoliosis idiofatik berarti suatu keadaan yang tidak diketahui penyebabnya kenapa tulang belakang atau punggung orang mengalami pembengkokan.

Luthfi menegaskan bahwa skoliosis bukanlah penyakit. Skoliosis tak berbeda bentuk telinga satu orang yang berbeda dengan sebagian besar orang. Tetapi masalahnya, ada skoliosis yang mengalami progres. Data menunjukkan sebanyak 10% dari penyandang skoliosis yang mengalami progres.      

Penyandang skoliosis idiofatik bisa beraktivitas normal sehari-hari. Mereka tidak mengalami kelainan berarti. Tetapi bila skoliosisnya mengalami progres, orang yang menyandangnya akan mengalami gangguan fungsi.

"Penyandang skoliosis mengalami rasa sakit pada punggung, pinggang, leher. Kemungkinan pula terjadi gangguan paru-paru, dan pernapasannya. Bahkan dapat terjadi kelainan pada jantung dan pecernaan," paparnya.

Sesuai pertambahan waktu, pembengkokan tulang punggungnya semakin parah. Bahkan orang tersebut sampai tak mampu mengunyah dan mencerna dengan baik. "Jika sudah begitu, progesif skoliosisnya harus disetop karena sangat membahayakan," katanya.

Bagaimana penanganannya?
Luthfi memaparkan bahwa penangan skoliosis terdapat dua cara yaitu cara nonoperatif dan operatif. Tetapi penanganan itu memiliki empat tujuan. Pertama, menghentikan progres tulang. Kedua, membuat badan lebih seimbang. Ketiga, dikoreksi agar tampil lebih baik. Keempat, penyandangnya diharap bisa hidup lebih baik.

Cara nonoperatif biasanya dilakukan berupa olahraga seperti renang, perenggangan, fisioterapi, dan olahraga punggung. Tujuannya tak lain untuk menguatkan otot punggung. "Tetapi hal itu hanya untuk pembengkokannya di bawah 20 derajat," katanya.

Untuk pembengkokan yang mencapai 20 derajat hingga 40 derajat harus menggunakan brace atau rangka. "Rangka itu bisa dipakai di badan atau di leher untuk mengoreksi atau menahan laju progresivitas tersebut," katanya.

Untuk pembengkokan yang kurvanya lebih dari 40 derajat sudah tak mungkin dilakukan cara nonoperatif. Untuk mengatasinya tak ada lagi selain cara operatif. Luthfi menjelaskan bahwa operasi dilakukan untuk menghentikan progres. Selain itu, operasi juga bertujuan mengoreksi tulang yang bengkok.

Bagaimana mengoreksinya ?
"Mengoreksinya seperti kita mengoreksi dahan yang bengkok. Dalam operasi, dilakukan pemutaran dan penarikan agar tulang kembeli ke posisi normal dengan didukung baut dan pen," katanya.
Sekarang pasien skoliosis cukup beruntung. Pasalnya, kata Luthfi, RS. Premier Bintaro memiliki Spine Center. "Ramsay Spine  Center adalah pelayanan yang dapat mengatasi seluruh problem tulang belakang secara terpadu dan komprehensif," katanya.

Dikatakan terpadu karena Ramsay Spine Center RS. Premier Bintaro menangani masalah tulang belakang yang ditangani tim dokter dari berbagai bidang spesialistik seperti dokter spesialis orhtopedi tulang belakang, spesialis neurologi, spesialis neurofisiologi, spesialis rehabilitasi medik, dan spesialis radiologi.     
- See more at: http://www.rs-premierbintaro.com/healthinfo/DefaultEvent.aspx?id=15#sthash.cqEEzrhO.dpuf

© Copyright 2017 RSIA. Bunda Aliyah
Developed by